Subscribe

Archive for the ‘Kampanye’

Indonesian AIDS Policy: “On the ground” Isn’t as Good as “On Paper”

May 13, 2009 By: Tukang Kompor Category: Advokasi, Kampanye No Comments →

by Anton Muhajir
Published at Asia Report

For Agus, fictitious name, the end of life was not the end of a journey. As a former injection drug user (IDU), he faced a new problem when he passed away. Two days ago, the IDU died from complications arising from AIDS. Often in Bali, a person who dies is the responsibility of not only their families, but also of the traditional local community, called banjar.

Normally, this care consists of bathing, burying, cremation, and a traditional farewell ceremony. But not for Agus.  Agus’s body was rejected not only by his family, but by his community, as well.

Fortunately, Agus still had many friends: fellow users and former IDU and people living with HIV and AIDS (PLWHA).  So, these friends brought Agus’s body back to Sanglah Hospital, the biggest hospital in the Province of Bali, Indonesia, where it was treated.  About a week before, the same story happened with Budi (not real name), another of the PLWHA in Bali. Because of his HIV/AIDS status, Budi’s body was also rejected by the residents.

(more…)

Bagus di Atas Kertas, Buruk di Lapangan

February 19, 2009 By: Tukang Kompor Category: HIV/AIDS, Kampanye 1 Comment →

Oleh Anton Muhajir

Kematian bagi Agus, nama samaran, bukanlah akhir sebuah perjalanan. Kematian bagi mantan pecandu heroin tersebut justru menjadi masalah baru. Dua hari lalu, IDU yang sudah positif HIV itu meninggal akibat infeksi oportunistiknya. Lazimnya di Bali, tiap orang yang meninggal akan menjadi tanggung jawab bukan hanya keluarga, tapi juga komunitas tradisional setempat yang biasa disebut banjar.

Biasanya, orang yang meninggal akan diurus jenazahnya oleh keluarga dan warga banjarnya. Tapi tidak bagi Agus. Kini, jangankan mengurusi, bahkan menerima jenazahnya pun warga tidak mau. Maka, jenazah Agus dibawa kembali ke Rumah Sakit Sanglah, rumah sakit terbesar di Provinsi Bali, Indonesia, tempat dia pernah dirawat.

(more…)

Banyak IDU Salahgunakan Buprenorphine

January 10, 2009 By: Tukang Kompor Category: Kampanye 5 Comments →

Oleh Anton Muhajir

Injecting drug user (IDU) pasien terapi buprenorphine di Bali banyak yang menyalahgunakan obat tersebut dengan cara menyuntikkan. Padahal obat ini seharusnya digunakan dengan cara oral, diletakkan di bawah lidah.

Buprenorphine, di kalangan IDU lebih dikenal dengan nama pasaran Subutex, adalah obat untuk terapi substitusi heroin. Pasien terapi buprenorphine adalah pengguna heroin yang sedang berusaha melepaskan ketergantungannya dari heroin. Penggunaan buprenorphine dengan dosis yang terus menerus mengecil akan mampu menghilangkan ketergantungan dari narkoba.

Menurut aturan pakai di bungkus obat maupun resep dari dokter, obat berbentuk pil ini harus dipakai dengan cara oral, dilarutkan di bawah lidah. Namun, bagi IDU yang sudah terbiasa mengonsumsi heroin dengan cara menyuntik, cara pakai tersebut dianggap tidak asik. Maka, mereka menyalahgunakan dengan cara menyuntikkan.

(more…)

Nyanyian IKON Saat Hari AIDS

December 01, 2008 By: Tukang Kompor Category: Dokumentasi, HIV/AIDS, Kampanye No Comments →

has-4.JPG

IKON Bali juga ikut serta dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember lalu. IKON Bali menampilkan lagu-lagu kritik dalam acara yang digelar di Lapangan Puputan Badung Denpasar tersebut.

Seperti biasa, salah satu tuntutan IKON adalah agar vonis rehab untuk korban Napza segera diterapkan. [pro!]

Jatuh Bangun Perjalanan Dua Tahun

September 22, 2008 By: Tukang Kompor Category: Advokasi, Dokumentasi, Kampanye No Comments →

Kue ulang tahun menandai dua tahun umur Ikatan Korban Napza (IKON) Bali minggu awal September ini. Ya, tidak terasa, komunitas korban narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) di Bali sudah berusia dua tahun. Usia yang sangat muda. Kalau bayi, dia sedang belajar menata satu dua kata. Sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Tapi kadang dia masih jatuh karena kurang hati-hati.

Begitu pula IKON Bali. Di usia yang dua tahun ini, IKON Bali pun masih tertatih-tatih. Kami masih terus belajar meneriakkan tuntutan untuk mengubah sistem agar lebih adil pada kami. Di sisi lain, kami juga sekali dua harus bangun kembali setelah terjatuh.

(more…)

IKON Kunjungi Panti Asuhan

July 02, 2008 By: Tukang Kompor Category: Dokumentasi, Kampanye No Comments →

Dua tahun belakangan, IKON Bali telah mengadakan sejumlah kegiatan seperti aksi turun ke jalan, orasi, teatrikal, long march dan aksi bersih-bersih. Nah, pada 12 Juni 2008 lalu untuk pertama kalinya IKON Bali beraliansi dengan Divisi School Program Yakeba mengunjungi panti asuhan yatim piatu di Gerokgak Singaraja.

Kegiatan ini adalah upaya IKON untuk menghapus stigma di masyarakat bahwa pecandu Napza tidak punya hati nurani dan tidak peduli dengan kaum papa, terutama mereka tidak mempunyai orang tua. Pada bakti sosial itu IKON memberikan paket makanan dan peralatan buku tulis yang diharapkan bisa bermamfaat bagi anak-anak yatim piatu.

Dayu Rupini, Mega dan Gede Wirawan secara simbolik memberikan bantuan tersebut kepada Bapak Sujana dan Ibu Sarah selaku pengurus panti asuhan Bethell. Perasaan haru dan luapan kegembiraan terpancar diwajah polos anak-anak yatim piatu ditandai tepuk tangan dan senyum suka cita.

(more…)

Tak Selamanya Napza Harus Dijauhi

June 01, 2008 By: Tukang Kompor Category: HIV/AIDS, Kampanye No Comments →

Biar percaya diri, gaul, ngetrend, enjoy, fly, dan seterusnya adalah alasan yang selalu dipakai seseorang untuk menggunakan drug, alkohol dan zat adiktif lainnya. Hampir 70 persen atau lebih, pecandu Narkoba berasal dari kalangan remaja dan usia produktif. Sebab di usia tersebut, seseorang sangat ingin tahu dan penasaran. Namun pada akhirnya dari mencoba sekali jadi memakai dua kali. Begitu seterusnya sampai seseorang mengalami ketergantungan. Cap sebagai junkie (sampah) pun kemudian melekat pada dirinya.

Namun, anggapan itu tak selamanya benar. Tidak sedikit pula pengguna Napza yang berangkat dari keterpaksaan. Seorang warga Australia bernama Houston David (38) 17 April lalu diadili di Pengadilan Negeri Denpasar. Dalam pengakuannya, david mengaku memakai ganja sebagai obat alternatif. Dia sakit punggung. Meski sudah berobat bolak balik Bali dan Australia, namun obat-obat yang diresepkan dokter tak satu pun bisa menyembuhkan sakit yang dideritanya. David pun memilih ganja sebagai obat alternatifnya.

(more…)

IKON Bali Tuntut Penghapusan Diskriminasi

March 31, 2008 By: Tukang Kompor Category: Dokumentasi, Kampanye No Comments →

Memperingati Hari Penghapusan Diskriminasi Sedunia 21 Maret, Ikatan Korban Napza (IKON) Bali menggelar aksi damai Minggu (30/3) hari ini di Lapangan Puputan Renon Denpasar. Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.00 Wita ini adalah rangkaian beberapa kegiatan yang dilakukan IKON sebagai seruan untuk menghapus stigma, diskriminasi dan kekerasan pada korban narkotika, obat-obatan, dan zat adiktif lain (Napza) .

Persiapan dimulai sejak pagi di sekretariat IKON Bali yang juga kantor Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). Dengan berkostum kaos hitam bertuliskan “Human Right For All” para korban Napza berkumpul berbaur bersama masyarakat yang mendukung kegiatan Aksi Damai kali ini. Mereka kemudian bersama-sama menuju tempat aksi di Lapangan Renon yang biasa dipakai warga Denpasar untuk berolahraga.

Sekitar 50 korban Napza itu kemudian mengepalkan tangan ke atas serta suara lantang berkumandang menyatakan hak-hak pecandu. Dalam salah satu tuntutannya, I Gusti Ngurah Wahyunda, Koordinator IKON Bali menyatakan mereka menginginkan agar vonis rehabilitasi segera diterapkan pada pecandu Napza.

(more…)

Menuntut Vonis Rehab Bagi Pecandu!

March 26, 2008 By: Tukang Kompor Category: Kampanye, Provokasi! No Comments →

Roy Marten menangis di sidang pengadilan. Ketika acara pemeriksaan berlangsung, artis era 1970-an sesenggukan di pengadilan. Dengan polosnya dia menjawab, dia belum bsia lepas dari ketergantungan dari narkoba. Dan dia memohon kepada majelis hakim agar tidak dijatuhi hukuman pidana melainkan divonis untuk ditempatkan di lembaga rehabilitasi.

Menurut Roy, pengalaman di penjara bukannya menghilangkan kebiasaannya mengkonsumsi sabhu-sabhu. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Dia bisa mendapatkan dengan mudah barang haram tersebut di lembaga permasyarakatan. Akibatnya, tujuan pemidanaan yang sejatinya untuk memberi efek jera kepada pelakunya menjadi ternafikan sama sekali. Kenyataan berkata sebaliknya. Dia justru semakin tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap sabu-sabu.

Bisa jadi apa yang dialami oleh Roy Marten adalah refleksi yang terjadi di hampir seluruh korban penyalahgunaan narkotika. Awalnya mungkin tidak terpikir sama sekali untuk memakai narkoba karena pasti sudah tahu akibatnya. Kemudian tertarik untuk coba-coba. Selanjutnya, setelah mengetahui efek yang dirasakan setelah konsumsi narkotika berlanjut menjadi ketergantungan. Setelah ketergantungan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan narkotika. Pertama, menjual apa saja yang dimiliki. Setelah barang-barang pribadi ludes mereka mulai menyasar barang milik keluarga atau teman dekat.

(more…)

Kapan Pecandu Dapat Rehabilitasi?

March 01, 2008 By: Tukang Kompor Category: Advokasi, Kampanye No Comments →

Kronik Medical Person adalah istilah kedokteran yang ditujukan kepada pecandu drugs. Istilah ini mengacu pada fakta bahwa pecandu korban yang harus dilindungi atas dasar hukum juga harus dibentuk ke arah pemulihan. Karena itu ada dua proses yang dilalui oleh si pecandu yaitu di satu sisi pecandu tetap sebagai warga yang wajib mematuhi hukum yang berlaku dan di lain sisi pecandu juga berhak mendapatkan pengobatan disertai pemulihan.

Masalahnya, pecandu selama ini hanya mendapatkan stigma atau julukan sebagai biang keroknya terjadinya kriminalitas dan yang lebih parah lagi adalah sampah yang harus disingkirkan, dipenjara atau bila perlu dihapuskan dari muka bumi ini. Selama ini masyarakat banyak yang berpikiran bahwa pecandu pasti pernah melakukan tindakan kriminal. Atau suatu ketika, nanti, besok atau kapan saja di mana saja pecandu akan melakukan tindakan yang melanggar hukum. Inilah stigma yang harus dihilangkan.

Ingat!! Penjara sudah penuh. Kurang lebih 30 s/d 40 % penjara di seluruh Indonesia kebanyakan kasus narkoba dan tidak tertutup kemungkinan angka ini akan terus meningkat jika pemerintah, aparat dan pihak-pihak terkait tidak segera menanggapi, memutuskan dan merealisasikan tindakan pencegahan preventif disertai tindakan nyata untuk memberi ruang bagi pemulihan si pecandu. Memang diakui selama ini sudah dilakukan upaya-upaya preventif yang sudah dilakukan oleh BNN dan pihak kepolisian. Namun upaya seperti itu saja sepertinya tidak membuat masalah menjadi selesai, ketika informasi dan edukasi mengenai pencegahan narkoba gencar-gencarnya disosialisasikan toh tetap saja stigma dan diskriminasi bagi pecandu tetap saja berlaku.

Ironisnya solusi terakhir yaitu penjara malah menjadi ajang tempat peredaran narkoba yang aman. Satu hal yang memprihatinkan baru-baru ini terjadi di Lapas Kerobokan yaitu ketika sipir penjara yang seharusnya sebagai pembina dan panutan oleh warga binaan Lapas malah jadi pengedar narkoba. Sungguh memalukan. Dan itu artinya lagi-lagi pecandu bukan diberi solusi untuk pulih terlebih lagi menjadi jera dan tobat tapi justru terjerumus lebih dalam ke jurang kelam tanpa harapan yang akhirnya sia-sia.

(more…)