Pocong Pecandu pun Ikut Merenung
Samar-samar terdengar paduan suara mengumandangkan lagu Bangkit Bersama sebagai genderang perjuangan, menandai perjuangan penanggulangan HIV/AIDS. Bersamaan dengan iringan alunan lagu, ratusan lilin bersinar menerangi kawasan sekitar sehingga kian kental dan khusyuk lingkaran malam itu memaknai Malam renungan AIDS Nusantara (MRAN) tahun ini. Namun bukan berarti perjuangan tahun ini sudah usai. Karena di masa yang akan datang kerja keras diikuti hambatan dan kendala sudah lebih dulu siap menghadang.
MRAN ini bertema Never Give Up, Never Forget. Acara dilaksanakan di lapangan Puputan Badung Denpasar, pada 25 Mei 2008 dihadiri ratusan perwakilan dari Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) SMP dan SMU di Denpasar.
IKON Bali ambil bagian dengan menghadirkan pocong-pocong dengan atribut kritikan untuk menyindir layanan kesehatan yang masih saja mengucilkan pasien-pasien ODHA. Sebab, tidak satu pun instansi yang boleh melakukan diskriminasi pada ODHA dalam layanan kesehatan. Merujuk pada Perda No. 3 tahun 2006 tentang Penanggulangan HIV/AIDS bahwa setiap Odha berhak mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Jika diskriminasi itu masih terjadi, maka pelaku akan diberikan sanksi sebagaimana diatur dalam Perda tersebut.
Terjangkaunya layanan kesehatan yang berkualitas memang masih jadi salah satu perhatian IKON Bali, kelompok pergerakan pembela hak asasi manusia (HAM) pecandu Napza dan ODHA di Bali.
Menurut Kordinator Harian IKON Bali, Kadek Adi Mantara mengungkapkan, “Meski aksi dan seruan untuk menolak stigma dan diskriminasi bagi ODHA terus diteriakan,tapi itu semua masih saja belum mampu berjalan maksimal sesuai harapan.”
Menurut Moyong, panggilan akrab Adi Mantara, seharusnya kita tidak terlena dan berlarut-larut puas akan hasil yang sudah dicapai. ”Karena merenung saja tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ada hal lebih baik yang bisa kita kerjakan bersama-sama berangkat dari apa yang sudah kita renungkan,” kata Moyong.. Karena, lanjutnya, tanpa niat untuk mengubah gaya hidup berisiko tertular HIV serta kesadaran semua pihak untuk menyikapi epidemi HIV/AIDS, itu sama saja akan mementahkan kita ke titik nadir. Artinya harus berjuang dari awal.
MRAN sendiri merupakan rutinitas tiap tahun untuk memikirkan kembali persoalan terkait HIV/AIDS. Dari kutipan Spiritia oleh Chris.W.Green, MRAN sendiri sudah diperingati sejak tahun 1991. Namun baru pada tahun 1996 momentum ini menjadi tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Walau kegiatan ini bersifat non politis, MRAN bertujuan menyatukan semua orang dalam memikirkan dan merenung bahwa fenomena gunung es telah telah banyak mengambil nyawa manusia didunia.
Dengan adanya kegiatan renungan AIDS seperti ini kita diajak bukan saja untuk peduli hanya pada permasalahan seputar AIDS saja tetapi kita juga diajak bersama-sama untuk mengambil langkah dan solusi untuk menanggulangi masalah HIV/AIDS. MRAN juga bisa menjadi pijakan untuk mengubah epidemi menuju ke arah perubahan yang lebih baik. Paling tidak terjadi penurunan penularan HIV/AIDS.
Namun, dari tahun ke tahun, perubahan yang diharapkan masih terlampau jauh untuk memutus rantai penularan HIV/AIDS dan mencegah virus mengubur kawan-kawan kita. Data terbaru dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali menyebutkan bahwa jumlah ODHA terbanyak berasal dari komunitas pekerja seks komersial (PSK) dan heteroseksual yang mencapai 1.114 kasus. HIV positif di kalangan pengguna jarum suntik sebanyak 639 kasus. Terakhir 123 kasus dari komunitas homoseksual ditambah lagi penularan dari kelahiran tercatat 23 kasus ibu ODHA.
Kesadaran masyarakat untuk melakukan pola hidup sehat demi mencegah tertular HIV adalah salah satu kunci memutus rantai penularan virus. Namun kesadaran saja dirasa tidak cukup. Dibutuhkan kesadaran dan keterlibatan dari semua pihak terutama kepada layanan kesehatan dan pemegang-pemegang kebijakan untuk mulai lebih berpihak kepada masyarakat tanpa stigma dan diskriminasi. Sarana dan prasarana yang terjangkau dan bermutu bagi umat ODHA pun harus tersedia. Sayangnya ini yang masih hanya bisa didamba oleh teman-teman Odha.
Semoga bersama tema tahun ini Malam Renungan AIDS Nusantara bukan hanya renungan. Semoga di masa-masa yang akan datang, renungan seperti ini menjadi perayan atas keberhasilan dengan tidak adanya lagi stigma, diskriminasi dan kekerasan terhadap ODHA maupun pecandu Napza. [pro!]

Ikatan Korban Napza (IKON) Bali adalah kelompok yang memperjuangkan perlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi pecandu maupun mantan pecandu Napza.Untuk mewujudkan cita-cita tersebut IKON Bali melakukannya melalui empat program utama yaitu Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, dan Sosialisasi.