Suka Duka Membimbing Korban Narkoba
Sumber Radar Bali Minggu | 22 Februari 2009
Korban narkoba di Bali tak jauh beda dengan berita penangkapannya. Makin bertambah saja tiap harinya. Barang haram yang era 1970-an silam akrab dikonsumsi bule era hippies di Kuta seperti racun yang setiap saat membuat terkapar korbannya. Tak gampang untuk merawat mereka.
—
INI memang simalakama kawasan wisata. Di kawasan Asia Tenggara, Thailand misalnya, juga punya problem serupa. “Dulu saya sempat berpikir bahwa dengan kultur masyarakat Bali yang sangat menjunjung adat dan nilai relijiusitas, rasanya akan sulit terkontaminasi barang-barang haram seperti narkoba,”papar pemerhati korban narkoba, dr Denny Tong.
Namun, analisisnya terbantahkan. Bagi pria yang sudah memasuki kepala tujuh ini, dunia narkoba memang tak asing baginya. Sejak 40 tahun silam, dia sudah malang-melintang sebagai dokter. Pria yang sempat menjabat sebagai direktur RSJ Bangli periode 1967-1986 ini, mengaku hampir 1.000-an lebih korban narkotika yang sempat ditanganinya.

Ikatan Korban Napza (IKON) Bali adalah kelompok yang memperjuangkan perlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi pecandu maupun mantan pecandu Napza.Untuk mewujudkan cita-cita tersebut IKON Bali melakukannya melalui empat program utama yaitu Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, dan Sosialisasi.