Saatnya Memutus Rantai Diskriminasi pada ODHA
Oleh Alvien Cartner
Pada hari AIDS sedunia 1 Desember lalu, IKON menggelar kampanye dan bagi-bagi kondom serta brosur. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu itu digelar sejak pukul 10.00 wita. Sekitar 30 anggota IKON berkumpul di sekretariat IKON di Jln Mertasari untuk persiapan dan dilanjutkan pada pukul 11.00 wita di depan Discovery Shopping Mall Kuta untuk membagi-bagi brosur serta kondom. Di dalam pesan-pesan orasinya Raden Danu yang bertindak sebagai Korlap pada acara ini menyampaikan bahwa HAM adalah milik semua manusia baik pecandu dan ODHA. Menurut Danu kegiatan ini bertujuan memperkenalkan IKON pada masyarakat supaya masyarakat tahu bahwa HIV/AIDS tidaklah seseram yang digosipkan. “Tidak benar bahwa pengidap HIV/AIDS harus dijauhkan dan diisolasi agar tidak menulari orang lain,” teriak Danu.
Maka dengan digelarnya kampanye ini juga diharapkan masyarakat sadar dengan informasi yang benar segala bentuk stigma dan diskriminasi pada ODHA dapat terwujud sekaligus dapat memutuskan mata rantai penularan HIV. “Kita juga harus segera memutuskan mata rantai stigma dan diskriminasi pada ODHA maupun pecandu tegasnya,” kata Danu.
Terlaksananya kegiatan peringatan hari AIDS sedunia ini tidak lepas dari kepedulian para pejuang-pejuang HAM untuk ODHA dan para pecandu yang dilanggar hak-hak azasinya oleh negara. Dari kasus yang sudah dilaporkan pada IKON, sebagian besar masih berupa tindak kekerasan pada pecandu oleh aparat penegak hukum. Ironisnya adalah cerita tentang pengalaman hidup seorang mantan pecandu yang divonis juga tertular HIV setelah tes darah. Ale (bukan nama sebenarnya) awalnya ia adalah pemakai drug putaw dengan cara menyuntikan pada lengannya dan berlangsung selama bertahun-tahun serta sering berbagi jarum suntik pada teman sesama junkie. Tanpa disadari HIV sudah menularinya.
Awalnya ia ragu untuk membuka statusnya pada keluarganya sendiri namun setelah ia pikir lagi akhirnya Ale memutuskan untuk membuka statusnya pada keluarganya. Ale sendiri saat ini tinggal di Denpasar dan keluarganya di Semarang. Setelah menghubungi keluarganya dan membuka statusnya, justru keluarganya tidak mau menerima ia kembali untuk berkumpul bersama keluarganya di Semarang. Awalnya Ale berpikir hanya dengan keluarga ia dapat bersandar untuk mendapatkan perlindungan serta perhatian dan dukungan. Kenyataannya ialah bukan perhatian yang ia dapatkan tapi justru pengucilan dan diskriminasi yang ia harus telan. Menyedihkan memang tapi seperti itulah pil pahit yang Ale telan.
IKON sendiri terus menyerukan dan mengingatkan bahwa jelas-jelas sudah tertulis dan ditandatangani bahwa setiap orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat serta hak-hak yang sama. Ini merujuk pada UU No. 39/1999 bahwa HAM merupakan hak dasar secara kodrati melekat pada diri bersifat universal dan langgeng. Oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi apalagi dirampas oleh siapa pun dan dalam “kondisi apa pun”. Artinya sudah jelas bahwa dalam kondisi sebagai pecandu terlebih sebagai pengidap HIV adalah tetap sebagai manusia yang harus dilindungi, mempunyai hak yang sama dan dihormati layaknya orang normal.
Dengan terlaksananya agenda kegiatan kampanye ini kembali kita diingatkan bahwa pentingnya suatu perubahan cara pandang yang keliru yang menganggap bahwa pecandu dan pengidap HIV adalah sampah yang tak berguna yang harus dienyahkan dari muka bumi ini. Mestinya kita tahu bahwa mantan pecandu ada yang bisa berkarya dan menjadi panutan bagi masyarakat seperti Magic Jhonson serta ulama Ustad Jefry yang dulunya seorang pemakai sabu tapi kini malah justru menjadi contoh bagi masyarakat.
Semoga dengan kampanye ini seruan IKON dapat menjadi landasan pemikiran bahwa masih ada hak-hak pecandu dan pengidap HIV yang mau bangkit dari keterpurukan dan menjadi bagian masyarakat yang sama kodrat dan martabatnya.
Berantas HIV bukan orangnya! [IKON]

Ikatan Korban Napza (IKON) Bali adalah kelompok yang memperjuangkan perlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi pecandu maupun mantan pecandu Napza.Untuk mewujudkan cita-cita tersebut IKON Bali melakukannya melalui empat program utama yaitu Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, dan Sosialisasi.
February 2nd, 2008 at 10:30 am
More info about HIV AIDS INFECTION :
http://www.geocities.com/hivaidsinfection
http://www.hivaids.co.nr