IKON Kunjungi Panti Asuhan
Dua tahun belakangan, IKON Bali telah mengadakan sejumlah kegiatan seperti aksi turun ke jalan, orasi, teatrikal, long march dan aksi bersih-bersih. Nah, pada 12 Juni 2008 lalu untuk pertama kalinya IKON Bali beraliansi dengan Divisi School Program Yakeba mengunjungi panti asuhan yatim piatu di Gerokgak Singaraja.
Kegiatan ini adalah upaya IKON untuk menghapus stigma di masyarakat bahwa pecandu Napza tidak punya hati nurani dan tidak peduli dengan kaum papa, terutama mereka tidak mempunyai orang tua. Pada bakti sosial itu IKON memberikan paket makanan dan peralatan buku tulis yang diharapkan bisa bermamfaat bagi anak-anak yatim piatu.
Dayu Rupini, Mega dan Gede Wirawan secara simbolik memberikan bantuan tersebut kepada Bapak Sujana dan Ibu Sarah selaku pengurus panti asuhan Bethell. Perasaan haru dan luapan kegembiraan terpancar diwajah polos anak-anak yatim piatu ditandai tepuk tangan dan senyum suka cita.
Dari 186 anak-anak yang mendiami panti asuhan, sebanyak 10 anak sudah bersekolah. Sisanya sebagian besar umurnya di bawah 10 tahun dan beberapa masih balita.
Menurut keterangan pengasuh panti, kebanyakan dari mereka berasal dari Nusa Penida sisanya dari pulau Jawa. Adapula anak-anak dari wilayah Gerogak dan sekitarnya.”Orang tua mereka tidak mampu membiayai kebutuhan hidup. Padahal anak-anak itu terbilang cerdas dan punya potensi bakat,” kata Ibu Sarah pengasuh panti.
Ungkapan haru dan keprihatinan juga terlontar dari mantan pecandu Dayu Rupini, yang melihat kondisi ruang tidur mereka yang berhimpitan dikarenakan kapasitas panti terbatas sehingga tidak cukup mampu menampung anak-anak. Melongok lagi ke ruang lain seperti dapur, ternyata sangat kurang kelengkapan masak-memasaknya. Kompor usang, piring dan gelas yang belum bisa dikatakan layak untuk dipakai.
“Bagaimana mengatur makannya di panti?” tanya Dayu kepada salah satu anak panti.
”Kita di sini sekali masak langsung banyak, terus dibagikan rata. Biar irit minyak,” kata anak panti Bethell. ”Pokoknya apa yang ada, itu yang dimakan,” tambahnya lagi.
Melihat kehidupan pecandu dan ODHA yang penuh hujatan dan penderitaan, di sudut tempat lain ternyata ada yang menderita, meskipun beda status sosialnya.
Dengan apa yang sudah IKON Bali lakukan, terbukti bahwa pecandu masih punya hati, masih punya mata melihat orang lain ada yang sama menderitanya. Tidak hanya bergumam kasihan saja, namun IKON yang berisikan orang-orang bermasalah yang penuh dengan stigma buruk, membuktikan dengan mengambil tindakan nyata. [pro!]

Ikatan Korban Napza (IKON) Bali adalah kelompok yang memperjuangkan perlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi pecandu maupun mantan pecandu Napza.Untuk mewujudkan cita-cita tersebut IKON Bali melakukannya melalui empat program utama yaitu Advokasi, Dokumentasi, Kampanye, dan Sosialisasi.